INSPIRATION

I'm inspired to inspire others

KNOWLEDGE

Let's learn things together

MOTIVATION

Be someone who makes somebody feel like a somebody

STORY

Because every word tells a story

GRATEFULNESS

So which of the favors of your Lord would you deny?

Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2016

You work on your OWN TIME

Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya, sangat wajar jika kita cenderung membandingkan apa yang kita punya dengan orang lain. Saya pun sepakat jika itu bertujuan untuk melecut semangat, membuat kita lebih bekerja keras, ya istilahnya berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun sangat disayangkan ketika melihat orang lain sukses hal tersebut malah membuat kita down, iri hati, dan penyakit hati lainnya. 
Bagi kita, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau,
tanpa kita sadari kita juga adalah tetangganya tetangga kita
Kata orang Jawa, Urip iku sawang-sinawang. Bisa jadi hidup yang kita keluhkan setiap harinya adalah yang diinginkan oleh orang lain.





Artikel diatas saya dapat dari salah satu teman di grup WA. saya juga kurang tau sumbernya, bagi yang tahu bisa komen atau PM ya biar saya tuliskan sumbernya.

Saya sangat suka dengan artikel diatas yang menyebutkan bahwa setiap orang bekerja dalam 'time zone' masing-masing. dan saya pun mengamini, bahwa ketika kita sudah mengusahakan yang terbaik ya tinggal tunggu saja waktunya, Hold on, be strong and never give up. Penekanannya ada pada sejauh mana usaha kita.
Sudahkah kita bekerja lebih keras?
sudahkah kita belajar lebih lama?
sudahkah kita melakukan (bahkan melebihkan) usaha seperti yang dilakukan oleh orang yang kita anggap berhasil?
Pertanyaan itu hanya diri kita sendiri yang bisa menjawab :)


Jumat, 15 April 2016

Mengejar Cita (2) Bab : Langkah-langkah mendapat LOA S3)

Pada bab mengejar cita ini saya akan menceritakan perjalanan saya selama menempuh Ph.D 


Kali ini saya akan membahas tentang cara mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) untuk S3. Alhamdulillah bulan januari 2016 kemarin saya telah mendapatkan LOA untuk Ph.D di University of Strathclyde dan lewat blog ini saya akan berbagi informasi, sebelumnya kita akan membahas apa itu LOA.
LOA (Letter of Acceptance) atau kadang juga disebut dengan LO (Letter of Offer) adalah surat yang diterbitkan oleh sebuah universitas di luar negeri yang menyatakan bahwa seorang calon mahasiswa layak untuk mengenyam program studi yang diinginkan. Dengan kata lain, LOA menandakan bahwa seorang calon mahasiswa sudah diterima pada suatu program studi tersebut. Ada 2 jenis LOA yaitu :

LOA Unconditional jika calon mahasiswa diterima tanpa syarat lain yang harus dipenuhi secara akademik.
LOA Conditional jika calon mahasiswa diterima dengan syarat tertentu karena dianggap belum memenuhi syarat standar akademik suatu departemen atau jurusan misalnya saja skor IELTS yang masih kurang, belum ada pendanaan/ beasiswa dan sebagainya. Perhatikan bahwa pada satu universitas syarat standar akademik tiap program studi bisa saja berbeda. LOA conditional ini bisa dirubah menjadi Unconditional jika persyaratan sudah terpenuhi.

Nah, bagaimana cara mendapatkan LOA tersebut? Tentunya sebelum mencari LOA, kita harus menentukan kampus yang menjadi pilihan kita untuk study (baca: Mencari kampus impian) dan mempelajari persyaratan untuk S3. Setelah menemukan kampus tujuan kita, langkah selanjutnya adalah mencari pembimbing yang mempunyai topik penelitian sesuai dengan penelitian kita, sebenernya tidak harus mencari pembimbing yang sesuai dengan topik yang kita inginkan, bisa saja kita yang menyesuaikan topik yang diberikan pembimbing tersebut. Beberapa pembimbing biasanya membuka penerimaan Ph.D student sesuai dengan topik riset beliau. Kalau saya sendiri lebih memilih langkah pertama karena saya sudah terlanjur cinta dengan topik yang saya tekuni sejak awal S2 ini #ciee

Setelah itu kita bisa mengirim e-mail dan menyatakan ketertarikan di bidang yang digeluti pembimbing yang bersangkutan. Tentu, cara berkorespondensi via email ini ada tekniknya dan butuh kesabaran bagaimana berkomunikasi dengan beliau. Selain itu kita harus mengirimkan cv singkat, motivation letter, dan draft proposal penelitian kita

Bagaimana mencari pembimbing yang menggeluti bidang yang kita inginkan? banyak, salah satunya adalah kepo lewat website universitas atau dari jurnal dan publikasi beliau. Selain itu kita bisa memanfaatkan link dari dosen kita di Indonesia. Saya sendiri merasa sangat beruntung karena saya mendapatkan jalan untuk bisa bertemu dengan salah satu dosen senior di kampus impian melalui professor saya di ITS. Pada saat itu, beliau bekerja sama dengan University of strathclyde untuk mengadakan workshop, acara tersebut mendapat pendanaan dari Newton fund- British council, saya menjadi pantia dan ikut membantu workshop tersebut. Saya berkenalan dengan dosen-dosen senior dan peserta workshop. 



Perkenalan saya berlanjut lewat email dan chatting setelah itu saya mengirimkan beberapa berkas seperti CV, motivation letter, draft proposal penelitian, ijazah, transkrip, piagam2, dan sertifikat IELTS. Setelah itu melakukan wawancara lewat skype dengan berbagai pertanyaan seperti apa motivasi saya, pengalaman riset di bidang yang saya ajukan, dan apa keunggulan saya yang membuat beliau mau menerima saya menjadi bimbingannya. Pertanyaan terakhir spontan saya jawab seperti ini :
"Sir, I may not be the smartest or the strongest
but I promise I'll be the most persistence one
I'll fight till the end and never give up"
Itu bukan gombalan tingkat dewi, saya hanya teringat nasehat dosen saya di kelas kalau yang terpintar dan terkuat sekalipun masih bisa dikalahkan oleh mereka yang tekun. Jawaban sekaligus janji yang harus saya tunaikan bahkan sebelum Ph.D dimulai I'll be the most persistence one, I'll fight till the end and never give up

"Well .. Okay miss. Siti,  Hopefully everything will be ok with the Scholarship application. Looking forward to receiving the good news. See you in glasgow"

Itulah jawaban di akhir wawancara saya :) :) :)











Selasa, 12 April 2016

Mengejar Cita (1) Bab : Alasan

Pada bab mengejar cita ini saya akan menceritakan perjalanan saya selama menempuh Ph.D 



Entri ini dibuat untuk menjawab pertanyaan dari beberapa kawan ketika saya mengambil pilihan untuk memperjuangkan salah satu mimpi yang ingin saya raih dalam waktu dekat ini: Menjadi Ph.D student.

Memutuskan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya sudah mengakar dalam diri saya sejak bercita-cita untuk menjadi dosen. Mengapa harus dosen? ini semua berawal dari sebuah ketertarikan yang tumbuh menjadi kecintaan pada ilmu Perkapalan dan keinginan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat lewat keilmuan yang saya miliki (Lebih lengkapnya akan saya bahas tersendiri). Sebelumnya saya ingin berpendapat bahwa tingkat pendidikan itu tidak terkait pada kepintaran seseorang.. Tingkat pendidikan lebih condong ke arah prioritas dan kebutuhan masing-masing individu. 

Itulah yang saya alami saat ini.  saya butuh S3 untuk memperdalam riset yang saya lakukan.. untuk menunjang cita-cita saya menjadi seorang dosen dan peneliti. Selain itu ada alasan lain yang penting.. dan tersampaikan lewat cerita yang saya baca dari blog ini
Mengutip nasehat dari seorang dosen  kepada mahasiswinya yang masih bimbang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3 :

“Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S2 dan S3 dan mendapat ilmu darinya?”
“Sejak saya kuliah di ITB, Pak.” Jawab sang mahasiswi.
Kemudian dosen itu melanjutkan,
”Ya dek, betul, saya pun demikian. Saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan mengusap rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti. Apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti..”

Based on Dr. Hermawan Dipojono story. Lecturer from Physics Engineering ITB. 

Saya ingin menjadi seorang ibu yang bisa menceritakan.. mengajarkan.. banyak hal baik ke anak-anaknya kelak..

Banyak juga yang mempertanyakan kenapa harus ke luar negeri? Well.. Jujur saja, saya memilih University of Strathclyde  dengan banyak pertimbangan, salah satunya karena universitas tersebut merupakan rekomendasi dari professor saya di ITS. Disana sedang dikembangkan riset yang saya tekuni, dan memang masih sangat-jarang-sekali ada orang yang 'menyentuh' bidang ini di Indonesia, Beliau berkata saya akan mendapat lebih banyak ilmu dan pengalaman disana. Alhamdulillah atas link dari beliau saya bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan dosen senior disana hingga berujung pada LOA (Baca: Langkah-langkah mendapatkan LOA S3)



Pertanyaan selanjutnya.. Kenapa harus secepatnya?
Hmm.. mungkin banyak yang menganggap saya terlalu berambisi belum lulus S2 kok sudah cari kampus buat S3. That's okay, saya maklumi kalau ada yang berpikiran seperti itu (Saat ini saya sedang menempuh semester 4 pendidikan S2 saya di ITS) 
Berdasarkan pengalaman senior, dan dosen-dosen saya.. proses S3 itu tidak cepat dan mudah. butuh waktu mulai dari persiapan topik, dan lain-lain.. saya ingin START lebih awal, dengan memulai lebih cepat insyaallah semuanya bisa dipersiapkan lebih matang bukan? alasan yang kedua adalah karena ada kesempatan, ini semua adalah rezeki ketika jalan saya untuk mendapat LOA dipermudah oleh-Nya. Kemudian muncul pertanyaan "Is there a second chance?" ketika saya melepas kesempatan ini.. 
Dan yang terakhir adalah.. jika terlalu lama menunda, saya khawatir.. semangat untuk belajar dan melanjutkan studi akan semakin rendah.

Pertanyaan pamungkas.. Kenapa tidak menikah dahulu?
Oke, ini adalah pertanyaan kerap kali saya terima dan kadang bikin telinga panas (tetapi sejauh ini saya berpositif thinking orang yang bertanya adalah orang yang care) saya juga sama seperti wanita lainnya yang ingin menikah.. tetapi saya tidak ingin terlihat galau, sehingga terkesan tidak memikirkan  Saya membayangkan betapa bahagianya kalau bisa lanjut study bersama dengan pasangan. Tentunya saya juga berusaha mencapai apa yang saya idamkan itu.. seperti apa usahanya? *SKIP langsung ke intinya saja, seindah apapun plan kita, Just believe.. Allah's plans will always be greater than ours. Menikah tidak sesederhana aku yes, kamu yes.. tidak sesederhana itu, ada banyak hal yang tidak bisa dipaksakan. Karena menikah itu ibadah besar, ujiannya pasti juga besar.. sejauh ini yang bisa saya jawab : karena belum dipertemukan dengan orang yang bisa saling mendukung #caseclosed
There will be a time, you smile when you remember those things and feel how’s Allah love you with all the stories happened
Catatan terakhir, perjalanan ini masih panjang, Saya masih harus berjuang untuk IELTS, Beasiswa, dan sidang tesis pastinya. Saya sangat percaya bahwa hasil tidak akan menghianati proses, selama masih bisa diusahakan.. saya akan mengusahakannya lebih dari yang bisa diusahakan, bingung kan bacanya? hehe. Intinya, saya akan memberikan usaha terbaik saya.. selebihnya, biarkan Allah yang mengaturnya dengan indah.












Inspirasi kecil dari sudut kelas

Tidak terasa tepat setahun mengabdi di kampus ini.. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) jurusan Teknik Perkapalan, sebuah institut teknik yang orang-orang bilang 'adiknya - ITS' karena dosen-dosennya kebanyakan alumni ITS. Banyak hal yang sudah saya lalui .. suka-duka selama setahun ini menjadi catatan tersendiri di hati saya. Teringat saat pertama kali mengajar di kelas angkatan atas, saat itu salah seorang mahasiswa mengira saya adalah mahasiswa transferan dari kampus lain. Agak bete' tapi tetap bersyukur berati saya masih terlihat muda.

Mahasiswa saya kebanyakan memang sudah bekerja, pekerjaannya juga macam-macam.. ada yang memang berhubungan dengan perkapalan seperti drafter, welder, ada juga pekerjaan berat yang sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali dengan kapal. Hal pertama yang selalu saya tekankan kepada mereka adalah tentang niat kuliah, jadikanlah tujuan utama kalian untuk mencari ilmu.. bukan hanya untuk kenaikkan pangkat atau lainnya, supaya ilmu yang didapat menjadi berkah dan bermanfaat

Bukan hanya mereka yang belajar kepada saya melalui mata kuliah yang saya ajarkan, saya pun belajar dari mereka. Hal yang diam-diam saya kagumi adalah tentang posisi mereka sebagai pekerja sekaligus mahasiswa, bahkan beberapa juga sudah menjadi suami dan ayah, serta ada keluarga di kampung yang harus mereka beri nafkah. Diam-diam saya kagum tentang kegigihan mereka untuk terus belajar dan berusaha untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik. Walaupun terkadang ada yang sampai 'tepar' ketika saya menjelaskan di kelas, ketika saya tanya dengan polos dan jujurnya dia menjawab "Maaf bu, saya benar-benar capek bekerja".

Sejauh ini saya merasa nyaman berada disini, bersama dengan dosen-dosen lainnya yang rata-rata memang masih muda - bersemangat dan mempunyai misi yang sama untuk menjadikan jurusan ini menjadi lebih baik dari segala aspek.. terutama kemahasiswaannya. Alhamdulillah tahun ini Himpunan mahasiswa sudah terbentuk, dan ada juga tim IHC (ITATS Hydromodelling Club) yang akan mengikuti lomba Eco Solar Boat Competition, dan beberapa mahasiswa juga sedang persiapan mengikuti Lomba Karya Tulis Maritim.

Dimana kaki dipijak, disitulah saya akan memberikan yang terbaik, karena menjadi dosen sudah menjadi cita-cita saya, memberikan ilmu yang insyaallah bermanfaat bagi sesama.


Pict. Suasana presentasi tugas di Lab. Hidro












Kamis, 03 September 2015

Menikmati gurihnya Bonggolan : Diversifikasi olahan daging ikan menjadi jajanan sehat khas pesisir Gresik








Bonggolan, berasal dari Bahasa jawa bonggol yang berarti identik dengan sesuatu yang menonjol, seperti bentuk dari makanan khas kota gresik yang satu ini. Jika Palembang terkenal dengan pempek, maka gresik mempunyai jajanan yang tak kalah lezat, Bonggolan. Seperti namanya, bentuk makanan ini lonjong  berwarna putih dibungkus daun pisang. Soal rasa? Tidak perlu diragukan lagi, gurih seru!. Banyak cara untuk menikmati lezatnya bonggolan ini, ada yang langsung dimakan atau digoreng terlebih dahulu. Biasanya bonggolan ini dimakan dengan saus taucho atau sambal, tergantung selera kita masing-masing. 

Makanan ini berasal dari kecamatan sedayu – gresik yang kini menjadi oleh-oleh khas kota gresik. Sebagian besar penduduk di daerah pesisir utara gresik, tepatnya di kabupaten sedayu bekerja sebagai nelayan/ petani tambak. Ketidakpastian hasil penjualan ikan, membuat masyarakat nelayan memutar otak agar tidak mengalami kerugian. Sehingga muncul ide untuk mengolah kembali ikan yang mereka jual.  Bermula dari coba-coba, akhirnya jadilah bonggolan yang bisa kita temui saat ini. Prospek  jajanan ini begitu menguntungkan, karena rasanya yang khas, gurih dan kenyal membuat banyak orang menjadi penggemarnya.

Proses pembuatan bonggolan tidaklah rumit. Bahan baku utamanya adalah daging ikan yang dihaluskan dan dicampur dengan tepung kanji, bawang putih dan garam. Ikan yang digunakan bisa bervariasi seperti kakap, tenggiri, bandeng, udang, dan lainnya. Cara membuatnya cukup mudah, bawang putih serta garam dihaluskan dan  dicampur dengan kanji.  Setelah itu masukkan air panas secukupnya sambil diuleni. Jika masih lembek tambahi lagi kanjinya dan uleni hingga halus.  Terakhir bentuk seperti lontong dan bungkus dengan daun pisang, lalu kukus hingga matang. Karena sebagian besar bahan bakunya adalah ikan, jajanan ini mengandung protein hewani yang tinggi. Proses pembuatan jajanan ini bebas dari pengawet dan msg, sehingga aman dikonsumsi oleh semua kalangan. Di tengah serbuan junk food yang merajalela dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kita saat ini, bonggolan muncul menjadi salah satu alternatif pilihan jajanan sehat yang bisa diterima oleh masyarakat.

Melihat berbagai keunikan serta keunggulannya, jajanan ini mempunyai prospek yang cerah. Dengan membuat brand sebagai jajanan tradisional yang sehat dan memperbaiki packaging agar terlihat lebih eksklusif serta strategi pemasaran yang baik, bisa jadi kelak bonggolan khas gresik ini akan mejeng di rak-rak supermarket dan tersebar luas di wilayah Indonesia. (/far)

Jumat, 09 Agustus 2013

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE (BAGIAN 2)

Membangun PT. PAL INDONESIA dari puing-puing besi tua..


Ketika ditanya cita-citanya ingin membesarkan PT PAL saat itu, BJ Habibie yang lazim disapa Eyang Rudy ini mengatakan karena rasa sakit hati terhadap penjajah. Sebab, penjajah menjelek-jelekan bangsa Indonesia yang tidak bisa membuat apa-apa.
‘’Saya ingin tunjukkan, bahwa orang Indonesia itu bisa. Buktinya bisa membangun kapal dan pesawat,’’ cerita Habibie.


Ketika B.J. Habibie yang waktu itu berusia 35 tahun memutuskan pulang kampung dari Jerman Barat pada 1973, banyak yang bertanya-tanya.. Untuk alasan apa Habibie kembali ke Indonesia yang saat itu masih tertatih-tatih sebagai negara berkembang, dan meninggalkan karier cemerlangnya sebagai pakar teknologi penerbangan yang disegani di Barat?

Pilihannya menjawab permintaan Soeharto merancang fondasi kemandirian Iptek Indonesia berbuah cetak biru peradaban teknologi. Industri-industri strategis seperti PT Dirgantara Indonesia (dahulu IPTN) dan PT PAL, menjadi jejak kemandirian Iptek Indonesia yang dirintis Habibie dan menunjukkan kekuatan gagasannya.

Industri Perkapalan Indonesia sampai era 1970-an masih terbelakang. Galangan-galangan di sini baru menghasilkan kapal-kapal 1000 ton ke bawah. Mereka pun lebih berkonsentrasi pada pemeliharaan dan perbaikan kapal (harkan). Sementara perusahaan-perusahaan pelayaran nasional pesimis terhadap kemampuan galangan lokal, sehingga lebih suka memanfaatkan jasa galangan pembangun dan harkan di mancanegara. Di tengah kondisi demikian, sejak 1977, Suleman Wiriadidjaja  menjadi rekan B.J. Habibie dalam mengembangkan Penataran Angkatan Laut (PAL), Surabaya, menjadi pusat keunggulan dan ujung tombak industri perkapalan di Indonesia. Guna memacu dan mempromosikan kemampuan galangan dalam negeri.

Habibie bertujuan mendirikan PT PAL sebagai salah satu industri strategis dengan dengan harapan pada galangan inilah nantinya akan dibuat kapal teknologi canggih dan sesuai dengan kebutuhan kapal di Indonesia. Fasilitas Ship Building Plant (SBP) di PT PAL adalah yang tercanggih di Asia Tenggara. Bahkan sejumlah pakar perkapalan menilai desainnya nyaris sempurna. Jerman yang industri maritimnya lebih tua saja baru belakangan membangun SBP secanggih yang dimiliki PT PAL. Performa SBP yang mulai dibangun pada tahun 1984 itu tak lepas dari peran Habibie dan Suleman. Mereka tak sekadar menuangkan ide untuk membangunnya, tapi juga gigih memperjuangkan idenya sampai menjadi kenyataan. Habibie dan Suleman meyakinkan para penentu keputusan (baik keputusan politik maupun keputusan soal pembiayaan) bahwa proyek SBP tersebut rasional. Sesuai dengan kebutuhan PT PAL untuk memproduksi kapal secara efisien. Sejalan pula dengan upaya mengangkat PT PAL sebagai pusat keunggulan industri maritim di Asia Tenggara.

Selama beliau menjabat sebagai Direksi PAL, suleman memegang jabatan Koordinator Kegiatan, memperoleh kepercayaan penuh dari Habibie untuk mengendalikan operasional dan mengambil langkah-langkah guna mengembangkan PAL. Habibie bersama Suleman, menyiapkan proyek pertama pembuatan kapal berskala nasional. hasilnya dalam pembangunan kapal barang umum dengan ukuran 3000DWT. Pada saat itu PT PAL masih dalam taraf dalam belajar dalam memproduksi barang sehingga dilakukan kerjasama dengan Mitsui Engineering dan Shipbuilding Jepang untuk membangun kapal skala nasional tersebut.
Proyek yang digagas oleh Habibie dan Suleman ini menghasilkan produk unggulan kapal buatan dalam negeri, yakni kapal kelas Caraka Jaya dan kapal kelas Palwo Buwono. Kapal Caraka Jaya General Cargo 3.650 DWT, kini menjadi tulang punggung industri pelayaran nasional.


Selain mendirikan PT PAL dan industri teknologi tinggi lain, B.J. Habibie selaku Menristek/Ketua BPPT mengemukakan pemikirannya bahwa untuk memajukan industri, perlu optimalisasi riset dalam bidang industri yang bersangkutan. Untuk mendukung industri perkapalan nasional, dirasa perlu untuk membangun laboratorium hidrodinamika skala nasional. Habibie menyetujui proposal dari ITS agar LHI dibangun di dekat kampus ITS Sukolilo, Surabaya. 


Pertimbangannya, LHI akan lebih efektif karena dekat dengan lingkungan kampus (yang memiliki Fakultas Teknologi Kelautan). Kalau LHI dibangun di Sukolilo, berarti memudahkan mahasiswa ITS untuk melakukan kerja praktek dalam pengujian hidrodinamika. Dan staf ITS bisa melakukan penelitian di LHI, tanpa meninggalkan tugas mengajarnya. Pertimbangan lain, dekat pula dengan PAL yang kala itu dalam proses pengembangan untuk menjadi sentra industri perkapalan di Indonesia.
 (Bersambung...)

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE (Bagian 1)


 Pak Presiden yang bisa membuat Kapal (Terbang) !




" Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka! "

Mengenal Sosok Habibie
Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan sang ayah yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung.

Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. 

Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di  Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH)Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.

Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya, Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menhemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Rumus yang di temukan oleh Habibie dinamai "Faktor Habibie" karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai "Mr. Crack". Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung. dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

. . . . . . . . . . . . . . . . .

Pak Habibie.. tidak ada satupun alasan untuk tidak mengagumi beliau. Siapa yang tidak mengenal sosok Habibie? Seorang ahli aeronautika muslim yang namanya sudah mendunia dan masuk dalam deretan ilmuwan fisika. Tidak hanya dikagumi oleh rakyat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Jauh sebelum film Habibie dan Ainun ada, kekaguman terhadap sosok ‘Eyang Rudy’ ini telah terpatri dalam hati saya.. 

Berawal dari sebuah nama 
Yah! Mungkin alasan yang tidak keren. Tapi itulah kenyataannya. BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE. Pertama kali mendengar nama beliau waktu masih duduk di kelas 1 atau 2 SD. Ketika menjabat sebagai presiden R.I menggantikan Soeharto. Dan entah mengapa.. saya suka dengan nama itu. Waktu itu tidak banyak pengetahuan tentang beliau, yang saya tau dari TV beliau adalah Pak Presiden yang bisa membuat kapal terbang. Beranjak dewasa..saya tidak sengaja menemukan banyak informasi tentang beliau, karena sebuah kejadian : Chat dengan orang M*****IA. Saat SMA.. ketika lagi booming-boomingnya chat dengan orang luar negeri. Saya terlibat percakapan dengan warga Negara itu melalui dunia maya. Awalnya, percakapan kami berlangsung harmonis (haha) namun entah berawal dari apa.. di akhir chat kami semakin memanas. Apalagi ketika orang M*****IA itu mengatakan bahwasanya Kapal perangnya Indonesia itu tidak perlu di tembak/ di bom.. nanti bakal tenggelam sendiri. Hati anak SMA mana yang tidak sakit, bangsanya dikatakan seperti itu. Akhirnya, saya mencari-cari informasi (bahasa sekarangnya : Kepo) mengenai kapal perang dan pertahanan negeri ini (karena pada saat itu saya sangat suka berselancar di dunia maya). Dan saya temukan sosok yang penuh Inspirasi.. yang namanya tidak asing lagi di telinga saya : BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE
Bertambah satu lagi pengetahuan dan kekaguman saya ketika itu.. ternyata.. bukan hanya Kapal Terbang! Bapak mantan presiden kita ini juga bisa membuat KAPAL. 

(Bersambung…)


Rabu, 07 Agustus 2013

KISAH CINTA TELADAN (PART 1)






"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. 
Tapi mengambil kesempatan atau Mempersilakannya"

"Dan cinta itu membutuhkan keberanian atau pengorbanan"

....

Sebuah cerita yang membuat saya menitikkan air mata ketika mengetahuinya.. lebih dahsyat dari cinta Habibie terhadap Ainun yang selama ini saya idolakan.
Yaitu cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, cinta yang luar biasa indahnya.. karena cinta mereka selalu terjaga kerahasiaannya.. sikap, ekspresi & kata, hingga akhirnya Allah satukan mereka dalam ikatan suci pernikahan.

Ada sebuah rahasia terdalam di hati kecil Ali yang tak diceritakan kepada siapapun. Fathimah, sahabat kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Entah apa yang dirasakan Ali, dia pun pernah tertohok 2 kali, saat Abu Bakar & ‘Umar melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Lantas ia bersabar. Dan kesabarannya pun berbuah manis lamaran 2 sahabat yang tak diragukan kesalihannya tersebut ditolak oleh Rasulullah. Dan tibalah suatu masa dimana keberanian Ali mengumpul, cintanya memuncak.. hari dimana Ali melamar Fatimah walau hanya dengan bermodal baju besi dan perediaan tepung kasar untuk makanannya. Atas izin dan restu Allah, lamaran Ali pun diterima :’)

Dalam suatu riwayat, setelah menikah Fatimah Berkata pada Ali : “Maafkan aku, krn sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasa jatuh cinta pada seorang pemuda & aku ingin menikah dengannya,” Ali pun heran dan bertanya mengapa Fatimah tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.” (dikutip dari beberapa sumber) 

Subhanallah.. keagungan dan kekuasaan Allah..
Dialah Sang Pembolak-balik Hati..
Demikianlah Dia menganugerahkan cinta kepada hamba-hambaNya 

Satu hal yang bisa kita ambil dari kisah diatas adalah tentang menjaga KERAHASIAAN cinta.. karena sebenarnya masih ada cinta diatas cinta kita.. yaitu cinta kepada-Nya. Allah Maha mengetahui apa yang tersirat di hati mereka. Hingga tiba waktunya ketika cinta tersebut bersatu dalam sebuah ikatan yang halal. Pernikahan. Sebaik-baik rasa cinta adalah yang pas pada tempatnya, TIDAK DIUNGKAPKAN sebelum waktu & haknya (setelah akad nikah), tak lebih dan tak kurang. Cukuplah rasa suka dan cinta itu kita ekspresikan dg bijak, wajar, dan proporsional dalam bingkai cintaNya..
Insya Allah ada waktunya bagi kita untuk menumbuhkembangkan, mengungkapkan, mengekspresikan dan mengeksploitasi rasa yang tertahan itu setelah tiba waktunya..

(Bersambung..)

Sabtu, 29 Juni 2013

Inspirasi pagi : Idealisme & sebuah Thesis

Dalam setiap kegiatan dalam bidang apapun, cara berfikir ilmiah dan professional pasti tidak lepas dari data : Speak with data. Namun, keberadaan data hingga kini masih jauh dari pengelolaan professional yang mampu diakses secara cepat, tepat, dan akurat. Membangun suatu sistem manajemen data melalui kegiatan database Planning & programming analysis system (DPPAS) adalah upaya sistemik mengelolah integrasi DATA dan jajaran birokrasi kementerian/ lembaga dinas infrastruktur yang memang berkaitan dengan peta sebagai bagian dari data. Selama ini persoalan data menjadi masalah krusial bagi pemerintah, khususnya kementerian/ lembaga dinas infrasruktur di pusat dan daerah. Banyak instansi yang membuat konsep dan program sendiri-sendiri, tanpa adanya integrasi satu sama lain. Padahal, keberadaan data dan peta teramat sangat penting sebagai pertimbangan dalam menganalisa dan menentukan kebijakan public dalam rangka pelayanan public melalui informasi public yang sangat bergantung pada data dan peta. Contohnya saja perencanaan infrastruktur makro yang bergantung pada data dan peta mikro sehingga perlu adanya standarisasi pengelolaan data dan peta secara terpadu. Pembangunan infrastruktur berbasis data dari peta GPS/ GIS/ IT, prioritas penanganan dan penentuan anggaran. Konsep itulah yang dibawa oleh Bapak Didik Hardiono seorang alumni Teknik Sipil ’94 yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di ITS.

Perlu kita ketahui bahwasanya selain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang konstruksi didukung peralatan laboratorium modern dan alat berat yang memadai, pelatihan dan sertifikasi SDM Konstruksi, aspek legal mulai dari norma, standart, peraturan atau pedoman, manual (NSPM) hingga perundang-undangan yang lengkap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah pengelolaan semuanya itu sehingga akan menghasilkan serangkaian perencanaan, pengawasan, evaluasi dan pengendalian mutu konstruksi yang sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.

Untuk keperluan tersebut, diperlukan tools berupa standart software yang bisa menampung semua keperluan yang diinginkan. Karena pembangunan konstruksi mencakup kewilayahan, kebutuhan peta standart atau peta induk mutlak adanya. Peta Digital yang dibuat berdasarkan Global Positioning System atau GPS merupakan satu-satunya peta standar atau peta induk yang harus dimiliki oleh Departemen Pekerjaan Umum dan jajarannya di tingkat Daerah.

Dengan mengintegrasikan semua komponen tersebut – termasuk pemberdayaan SDM Konstruksi – diharapkan akan mampu melahirkan kinerja terukur di dalam rangka peningkatan kualitas pembangunan konstruksi di Indonesia secara umum untuk meraih pasar nasional dan internasional. pemanfaatan substansi maupun software ini bisa untuk semua bidang konstruksi yang mencakup kewilayahan di seluruh provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia. Dengan peta digital ini, kita bisa melihat : 1. Potensi tiap daerah yang akan dikembangkan, 2. Program penanganan yang akan dilakukan, 3. Penentuan anggaran, 4. Pemantauan alur kerja. Yang secara teknisnya akan ada surveyor yang turun dalam jangka waktu tertentu untuk memantau dan menginput informasi/ data yang diperolehnya ke dalam sistem ini. Sehingga dapat dipantau secara langsung baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Bahkan masyarakatpun bisa memantaunya melalui website instansi yang terkait, ini sangat mendukung Undang-undang keterbukaan publik, pembangunan infrastruktur semakin transparan baik dari segi teknis maupun anggarannya.

Wow! Sangat bermanfaat :D

Seorang Pak didik Hardiono :
Awal kami bertemu, saya melihat beliau adalah seseorang yang sederhana. Ketika mulai masuk dalam sebuah pembicaraan 1 hal yang kagumi dari beliau adalah : Dapat mempertahankan idealismenya.. walaupun sudah bukan lagi mahasiswa.  Mengingatkan saya sebuah kutipan :
“..Ijazah ini dapat hancur dan robek disuatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunya kekuatan yang dapat hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat. Sekalipun orangnya sudah mati..”
Beliau menceritakan banyak hal, termasuk mengenai pergerakan, idealisme mahasiswa, Beliau sangat suka menulis, dan sejak muda memang sering menulis artikel dan di terbitkan di beberapa surat kabar, Bahkan dulu ketika mahasiswa sempat menulis sebuah buku dengan judul : Mahasiswa, ilmu, dan organisasi. Berdasarkan pengalaman beliau ketika bekerja di salah satu instansi pemerintah, birokrasi dan manajemen data kita ini sangat amburadul. Itulah yang menyebabkan beliau menggarap sebuah gagasan diatas (peta digital) untuk memperbaiki tatanan informasi dan data di birokrasi kita. Diwujudkan dalam sebuah Thesis S2. Yang saat ini sedang diperjuangkan agar sistem ini bisa diaplikasikan di semua bidang pemerintahan.


Selain tentang idealisme yang masih bertahan, saya juga belajar 1 hal penting pagi ini : Sebagus apapun TA, Thesis, ide, gagasan kita jika tidak wujudkan sama saja tidak akan ada artinya. Yang jelas, harus selesai dulu TA.nya, setelahnya baru kita perjuangkan. Semangat mengerjakan TA !